Sebuah Kisah tentang Garam.

gelas

Dalam ilmu kimia, GARAM adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa bermuatan). Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Natrium klorida (NaCl), bahan utama garam dapur adalah suatu garam.

Larutan garam dalam air merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan garam, misalnya sitoplasma dan darah.

Reaksi kimia untuk menghasilkan garam antara lain

  1. Reaksi antara asam dan basa, misalnya HCl + NH3 → NH4Cl.
  2. Reaksi antara logam dan asam kuat encer, misalnya Mg + 2 HCl → MgCl2 + H2
Keterangan: logam mulia umumnya tidak bereaksi dengan cara ini.

Dalam kehidupan nyata nama garam juga dihubungkan dengan pengalaman seseorang dalam mengarugi kehidupan, misalnya dengan istilah “Sudah banyak makan Asam garam”, juga dalam kehidupan rumah tangga nama garam juga dhubungkan dengan  keharmonisan misalnya suatu hubungan tanpa pertengkaran dan masalah sepeerti masakan tanpa garam.

dari berbagai istilah dan pengertian tentang garam ini ada sepenggal kisah tentang garam.

Hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.

Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama.  Begitu tamunya selesai bertutur,  ia lalu mengambil  segenggam garam dan memintanya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Pahit…., pahit sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.

“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.

Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi,

“Bagaimana rasanya?”

“Segar!” sahut anak muda itu.

“Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.

“Tidak,” jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

  • “Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya,

  • “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. “

Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.

Disadur dari berbagai sumber.

Iklan

18 Komentar (+add yours?)

  1. retnet
    Jul 12, 2010 @ 08:45:05

    bos, ini modal ku untuk bahan cerita sebelum tidur anak ku.. ijin copasprint. heheheh…

  2. zarod
    Jul 12, 2010 @ 08:53:19

    Monggo kang mas 🙂

  3. akhta
    Jul 12, 2010 @ 10:20:19

    Cerita ini di bawa ke sel polsek bagus lho pak. Itu kan gudangnya masalah. Berarti gudang garam itu banyak masalah yo? 😀

  4. zarod
    Jul 12, 2010 @ 11:18:35

    @ pak akhta : he.. “warga baru” dikantor memang ada tahapannya pak, pembukaan, isi dan penutup… lha yg diatas termasuk program isi dan penutup. 🙂

  5. budiesastro
    Jul 12, 2010 @ 13:46:40

    aku ganti tema, jebul kok sama to pak,

  6. zarod
    Jul 12, 2010 @ 15:53:40

    lha enggeh, kok sami… he… 🙂

  7. hmcahyo
    Jul 13, 2010 @ 04:23:35

    wah blognya mantaB 🙂

    salam kenal aja 🙂

  8. zarod
    Jul 13, 2010 @ 05:27:20

    wah terima kasih… salam kenal dan terima kasih telah berkunjung 🙂

  9. Dian Ribut
    Jul 13, 2010 @ 06:22:38

    hohoho. . .

    kopdar 15 juli iso teko gak mas?? 😀

  10. zarod
    Jul 13, 2010 @ 06:26:51

    waduh sepurane aku gak iso je, sebenere kepengen melu n kumpul kumpul karo blogger nganjuk, salam wae yo karo temen temen 🙂

  11. bayuputra
    Jul 13, 2010 @ 06:42:53

    wah maaf pak .. saya salah berkunjung ke blog ini .. padahal saya mau berkunjung ke blog Pak Polisi … eh malah masuk Blog guru Kimia … heee …

    ————–
    wah wah … Pak Zarod sudah mulai menunjukan taringnya … gaya bahasanya enak di cerna pak ….

  12. yusami
    Jul 13, 2010 @ 07:05:10

    ini blog-nya temannya Pak Sastro yang ghuru kimia itu kan…? Pantesan postingannya kaya Bejo, sangat berisi , he..he.. muantep , penuh falsafah. sukses ya Pak….

  13. Zarod
    Jul 13, 2010 @ 07:15:23

    @ mas bayu : he.. bisa2 saja sampeyan.. 🙂
    @ pak yusman : pengen belajar aja pak, gk mau kalah sama istri yg guru fisika.. He..

  14. Miftahur
    Jul 13, 2010 @ 14:14:01

    Hohoho . . . kiy crito teko Om Andrie Wongso ya Mas . . . 😀

  15. zarod
    Jul 13, 2010 @ 16:22:33

    @ miftah : hohoho… Iyo paling.. He..

  16. Sugeng
    Jul 16, 2010 @ 23:04:14

    Saya sedang mencari wadah yang besar yang bisa memuat semua uneg-uneg dan kekesalan dihati. Semoga dengan ketemunya itu bisa menhilangkan rasa pahitnya garam kehidupan 😆
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  17. zarod
    Jul 17, 2010 @ 10:34:27

    iya pak, saya juga lagi belajar tentang wadah yang besar 🙂

  18. cakband
    Des 23, 2011 @ 01:43:09

    terima kasih infonya….
    kunjung balik ya…
    http://cakband.blogdetik.com/wp-admin/post-new.php
    tanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: